Perjalanan Cinta Zahrana

Identitas buku

Judul Buku           : Cinta Suci Zahrana 
Penulis                 : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit               : Ihwah Publishing House
Tahun terbit         : Pertama, Mei 2011
Jumlah halaman : V (Lima) + 284 Halaman

Pendahuluan : 

    Habiburrahman El-Shirazy adalah seorang novelis yang hebat, biasa dikenal dengan nama Kang Abik. Pria kelahiran Semarang, 30 September 1976. Kang abik bukan hanya seorang penulis, dia juga seorang dai, penyair yang terkenal sampai diluar negeri. Nama Kang Abik mulai melambung ketika karya novelnya yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” tampil di layar kaca.
    Karya-karyanya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat. Karya-karyanya sangat baik dan penuh dengan pesan moral dan agama, banyak novel-novel karya yang kang abik yang best seller. Beberapa novel karya kang abik adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV,2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem, Mahkota Cinta dan Nyanyian Cinta. Dengan karya-karyanya yang fenomenal itu, Habiburrahman El Shirazi dijuluki "Penulis Bertangan Emas" dengan berbagai penghargaan bergengsi tingkat nasional maupun Asia Tenggara.

Isi resensi (sinopsis atau ringkasan) : 

    Novel ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Zahrana, dengan nama lengkap Dewi Zahrana, anak tunggal dari Pak Munajat dan Ibu Nuriyah. Zahrana adalah sosok perempuan yang sangat mengutamakan pendidikannya. Ia berhasil memperoleh prestasi yang gemilang. Ia berhasil lulus dari UGM di Fakultas Teknik jurusan Arsitektur dengan label mahasiswa terbaik. Karena sering mengutamakan pendidikannya, kisah percintaan Dewi Zahrana bisa dibilang cukup rumit. 
 Setelah lulus dari UGM, Zahrana mendapat panggilan dari UGM untuk ikut mengajar dan ditempatkan menjadi asisten dosen. Tak hanya itu, Zahrana juga mendapatkan beasiswa ke Belanda untuk melanjutkan study S2-nya di Delft University of Technology. Namun, kesempatan itu Zahrana tolak, setelah mempertimbangkan keinginan kedua orangtuanya yang tidak ingin jauh dari dirinya. Hingga akhirnya ia melamar pekerjaan sebagai dosen di kota kelahirannya, di Universitas Mangunkarsa, Semarang. Karena prestasi yang banyak diraihnya, akhirnya ia diterima sebagai dosen di fakultas teknik Universitas Mangunkarsa.   
    Perjalanan cinta Zahrana justru semakin rumit, karena ambisi Zahrana untuk mengejar karier dan pendidikannya yang gemilang. Ia lebih memilih fokus untuk melanjutkan S2nya di ITB dengan beasiswa dari Dikti, daripada menerima lamaran dari seorang pemuda bernama Andi. Dengan alasan ingin konsentrasi dengan S2nya. Zahrana menghabiskan beasiswa 2 tahun di ITB dan akhirnya lulus S2 Arsitektur ITB dengan label mahasiswa terbaik. Bahkan, ia menulis artikel tentang arsitektur dalam bahasa Inggris dan dikirim ke jurnal Internasional, dan artikelnya berhasil menembus jurnal Internasional. Artikel yang Zahrana tulis mendapat apresiasi yang sangat besar dari pakar arsitektur dunia. Dirinya diundang ke Beijing untuk mendapatkan penghargaan tingkat internasional oleh School of Architecture, Tsinghua University, sebuah universitas terkemuka di China. Zahrana tentu sangat senang karena berhasil membawa nama baik keluarga, bahkan negaranya (Indonesia) sampai di kancah internasional.Namun, sangat disayangkan justru kedua orangtuanya tidak bangga akan penghargaan yang Zahrana dapatkan. Mereka justru lebih bangga jika Zahrana segera menikah dan mempunyai keturunan.  
    Kedua orang tuanya menginginkan hal itu, karena umur Zahrana yang sudah melewati kepala tiga. Namun, Zahrana tetap egois dan selalu mengikuti keinginannya. Ia terlalu sibuk mengejar karier dan pendidikan yang tinggi. Ia sudah berkali-kali menolak lamaran-lamaran yang datang kepada dirinya. Setelah menolak Andi dulu, ia juga menolak Gugun dengan alasan, Gugun tidak bisa mengatur waktu dengan baik karena Gugun hampir saja dikeluarkan dari kampus. 
    Begitu selesai mendapatkan penghargaan internasional di Beijing (China), tak lama kemudian Zahrana mendapat lamaran dari Dekan Fakultas Teknik dan Arsitektur di Universitas Mangunkarsa Semarang yaitu Pak Sukarman melalui Bu Merlin. Bu Merlin adalah asisten Pak Sukarman sekaligus dosen yang membantu Zahrana ketika Zahrana ingin melamar di Universitas Mangunkarsa. Lamaran yang sangat diinginkan kedua orang tuanya, mengingat usia Zahrana yang sudah mencapai usia 34 tahun, justru ditolak oleh Zahrana. Alasanya, karena Zahrana sudah mengetahui sifat asli Pak Sukarman selama di kampus. Setelah menolak lamaran Pak Sukarman, Zahrana didatangi oleh Bu Merlin. Meskipun Bu Merlin kecewa atas jawaban penolakannya Zahrana sebemumnya, namun Bu Merlin masih menyayangi Zahrana. Bu Merlin ingin Zahrana segera keluar secara terhormat dari Universitas Mangunkarsa daripada dipecatdan dipermalukan oleh Pak Sukarman. Setelah mendapat penjelasan dari Bu Merlin, akhirnya Zahrana mengundurkan diri dari Universitas Mangunkarsa.
    Setelah mengundurkan diri dari Universitas Mangunkarsa Semarang, Zahrana akhirnya mengajar di STM Al-Fatah Mranggen, Demak. Selang beberapa hari kemudian, datang kembali lamaran untuk Zahrana lewat sebuah sms, dan ini berasal dari rekan kerjanya di Universitas Mangunkarsa yaitu Pak Didik. Karena mengetahui bahwa Pak Didik sudah mempunyai seorang istri, dengan tegas ia tolak lamaran itu.  
    Setelah cukup lama mengajar di STM Al Fatah Mranggen, Demak, Zahrana belum lagi mendapat lamaran. Pak Munajat (ayah Zahrana) mengusulkan agar Zahrana berkonsultasi dengan Pak Kiai di pesantren tempat dirinya mengajar. Setelah berbicara dengan istri Pak Kiai yaitu Nyai Sa'adah, ia dijodohkan dengan seorang penjual kerupuk keliling. Seorang pemuda yang baik akhlak dan ibadahnya, bernama Rahmad. Pertemuannya terjadi ketika penjual kerupuk itu keliling di perumahan Zahrana atas perintah langsung dari Pak Kiai. Ketika Zahrana bertemu Rahmad, ia memantapkan dirinya untuk menerima Rahmad. Akan tetapi saat menjelang pernikahan, Rahmad mengalami kecelakaan, ia tertabrak kereta api sampai meninggal dunia. Zahrana yang mendapatkan kabar itu tak sadarkan diri, akhirnya dibawa ke rumah sakit.  
    Tak hanya itu, setelah kematian calon suamniya, tak lama kemudian ayahnya juga meninggal dunia karena serangan jantung. Bahkan Zahrana juga harus menerima teror dari Pak Sukarman yang lamarannya ia tolak mentah-mentah. Tak disangka, ternyata ketika di rumah sakit, Zahrana diperiksa oleh Bu Zulaikha, ibunda dari mahasiswa didikannya yaitu Hasan.   
Selang beberapa hari kemudian, Zahrana mengetahui bahwa Pak Sukarman lah yang menggagalkan proses pernikahannya dengan Rahmad hingga membuat Rahmad meninggal dunia. Ketika Zahrana sedang mengajar anak didikannya, Zahrana mendapat kabar di koran atas kematian dari Pak Sukarman yang menggenaskan.  
    Tak lama setelah kematian ayah dan calon suaminya, Zahrana mendapat lamaran dari Hasan (mahasiswa bimbingannya sendiri). Waktu itu, sepulang dari warung, untuk yang kedua kalinya Zahrana bertemu dengan Bu Zulaikha di rumahnya. Bu Zulaikha berkonsultasi kepada Zahrana mengenai permintaan Hasan untuk segera menikah. Awalnya Zahrana menanggapinya dengan biasa karena sepengetahuannya, Hasan memang ingin menikah dengan orang lain. Namun, alangkah terkejutnya ketika Zahrana mengetahui bahwa ternyata ibunda Hasan ingin melamar dirinya untuk Hasan. Tanpa berpikir panjang, Zahrana menerima lamaran Hasan dengan syarat akad nikahnya pada hari itu juga. Zahrana hanya ingin kejadian sebelumnya tidak terulang kembali. Lewat sambungan telepon, Hasan dan keluarganya menyanggupi syarat yang tersebut.  
    Setelah menikah dengan Hasan yang notabennya adalah mahasiswa bimbingan Zahrana, yang usianya 4 tahun lebih muda dari Zahrana, Zahrana hidup menjadi lebih bahagia. Kebahagiaan datang kembali ketika Zahrana diizinkan oleh Hasan untuk melanjutkan study S3nya di Fudan University, tawaran beasiswa penuh dari Prof. Jiang Daohan (guru besar Fakultas Teknik Fudan University) ketika pertemuannya di Beijing saat menghadiri penghargaan internasional. Hasan juga akan pindah melanjutkan S2-nya bersama dengan Zahrana di Fudan University dan melepaskan beasiswa S2-nya di Malaysia, sekaligus menghabiskan waktu berdua dengan Zahrana. Bahkan jika bisa, Hasan akan melanjutkan S3-nya di sana ketika Zahrana ingin mengajar di Fudan University. Begitulah lika-liku perjalanan hidup Zahrana menemukan cinta sucinya, hingga akhirnya dia menenmukan cinta sejatinya yaitu Hasan. Tembok suci China lah yang menjadi saksi cinta suci Zahrana dan Hasan.
 
Kelebihan : 

    Pengarang mampu mengemas cerita yang sederhana menjadi begitu mempesona dan mengharukan, dengan menyelipkan ilmu-ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang bermanfaat bagi para pembaca, dan dapat menginspirasi pembaca. Sebuah novel yang bagus, karena buku yang bagus adalah buku yang bermanfaat bagi pembacanya. Novel ini memiliki keunggulan dari gaya bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami. Cerita yang dituliskan penulis erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari dan banyak dialami oleh masyarakat sekitar, yaitu tentang kisah kehidupan Zahrana mencari pasangan hidupnya. Di dalam novel ini juga dilengkapi indeks dibagian bawah halaman untuk kata-kata yang sulit dipahami. Sudut pandang yang digunakan pengarang adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu, sehingga pembaca lebih mudah dalam memahami isi novelnya, karena pengarang menceritakan tokoh secara lengkap dan detail. Amanat yang ingin disampaikan pun mudah terserap, karena karya tersebut dituangkan oleh penulis dalam bentuk novel yang membangun jiwa.

Kekurangan : 

    Novel ini menggunakan alur cerita yang maju mundur, terbukti dibagian awal berlatar di sebuah bandara yang menceritakan perjalanan Zahrana menghadiri penghargaan internasional di Beijing (China). Kemudian dibagian tengah buku, berlatar tempat di Semarang karena menceritakan tentang kehidupan Zahrana yang sangat berkeinginan untuk mendapatkan berbagai penghargaan. Hingga pada akhir buku, berlatar tempat di Beijing (China) lagi, namun bukan untuk menghadiri penghargaan namun untuk mengambil beasiswa penuh S3-nya di Fudan University sekaligus menghabiskan waktu bersama dengan Hasan (suaminya). Sehingga untuk memahami alur tersebut, pembaca harus benar-benar memahami isi ceritanya. 
    Penggambaran sosok Zahrana dalam alur cerita begitu kompleks, sehingga tidak tergambarkan penuh penggambaran karakter sosok jodoh tokoh utama. Pelukisan sosok utama kedua ini diatas sekilas saja di pertengahan alur cerita dan disisipkan di akhir cerita sebagai koda. Sepanjang cerita pembaca dibuat sangat penasaran akan sosok calon imam tokoh utama. Padahal apabila penggambaran karakter jodoh Zahrana dapat digali dan diulas lebih banyak, mungkin akan menjadi lebih spektakuler dihati para pembaca. 

Kesimpulan : 

    Kesimpulan yang dapat diambil setelah membaca novel ini adalah jangan terlalu sibuk mengejar dan meraih penghargaan-penghargaan gemilang sehingga mengesampingka kewajiban sebagai seorang perempuan yang sudah berumur lebih dari 30 tahun, yaitu membina rumah tangga. Jangan pula terlalu berambisi untuk mengejar kebahagiaan sendiri, sekali-kali lihatlah keinginan kedua orang tua, barangkali keinginannya lebih baik dari perkiran kita. Karena keinginan orang tua pasti demi kebahagiaan anaknya. Jangan pula seperti Zahrana yang telat mengabulkan keinginan ayahnya sebelum meninggal dunia. Novel ini begitu inspiratif dan membangun jiwa, cocok dijadikan sebagai inspirasi pembaca dalam mengambil sebuah keputusan. Meskipun novel ini berisi tentang kisah percintaan, namun novel ini banyak mengandung pesan moral. 

Komentar